Krisis finansial global telah berlalu selama 3 tahun sejak meletus di tahun 2008. Kejadian tersebut memberikan kita banyak sekali peluang untuk meraih profit. Bahkan beberapa trader menganggap bahwa market tidaklah susah untuk ditebak ketika krisis global 2008 terjadi.
Guru trading saya pernah bilang,
“Bila kamu ingin belajar trading, belajarlah mulai dari kejadian crash tahun 1929 dan masa-masa the Great Depression”
Namun barangkali sebagian dari Anda belum pernah mengetahui atau mengalami momen krisis finansial global seperti ini. Maka kali ini saya akan memberikan sejarah krisis global yang pernah terjadi di market.
Harapannya, Anda akan dapat memetik pengalaman trading dari kejadian ini dan Anda dapat mengembangkan ilmu trading berkaitan dengan momen-momen yang terjadi di market.
The DOT.COM Crash – 2000
Selama 1990-an, market dibuai oleh pertumbuhan perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang internet seperti Amazon dan AOL, yang tampaknya mengantarkan era baru bagi perekonomian.
Saham mereka menjadi buruan bagi mayoritas investor di Nasdaq, meski pada kenyataannya hanya sedikit perusahaan yang bergerak di bidang ini dan menghasilkan profit yang konsisten.
Trader menyebutnya sebagai “dot.com bubble” yang artinya gelembung era internet. Bubble ini mencapai puncaknya ketika AOL membeli perusahaan media tradisional Time Warner seharga USD 200 miliar pada bulan Januari 2000.
Namun pada Maret 2000, bubble ini meledak, dan mayoritas index saham yang berbasis teknologi ini jatuh bebas. Index trading Nasdaq jatuh hingga 78% pada Oktober 2002.

Kecelakaan itu memiliki dampak yang lebih luas, dengan bisnis investasi jatuh dan perlambatan ekonomi AS pada tahun berikutnya, proses ini diperburuk oleh serangan 9/11, yang menyebabkan market ditutup sementara diikuti dengan beredarnya banyak spekulasi mengenai konspirasi dalam insiden jatuhnya 2 tower WTC setelah ditabrak oleh 2 pesawat jet komersial.
Federal Reserve, sebagai bank sentral AS segera mengambil langkah protektif dan memangkas suku bunga sepanjang tahun 2001 dan secara bertahap menurunkan suku bunga dari 6,25% menjadi 1% untuk merangsang pertumbuhan ekonomi.
The Crash of 1929
Kejatuhan Wall Street di tahun 1929, yang dikenal dengan nama “Black Thursday,” adalah suatu peristiwa yang mengirim AS dan ekonomi global berada pada jurang kekacauan, serta menyebabkan momen tergelap dalam sejarah ekonomi dunia yang dikenal sebagai “The Great Depression” di tahun 1930-an.
Setelah maraknya aksi spekulatif besar pada akhir tahun 1920, yang didasarkan pada munculnya industri baru berprospek cerah seperti siaran radio dan manufaktur mobil, index saham AS turun 13% pada hari Kamis, 24 Oktober.
Meskipun segala tindakan protektif yang dilakukan oleh otoritas pasar modal di Wall Street untuk menstabilkan pasar, index trading di Wall Street kembali menambahkan kerugiannya sebesar 11% pada Selasa, 29 Oktober.

Kekacuan ini baru berhenti di tahun 1932, total kerugian tercatat bahwa index trading di Wall Street telah turun sebanyak 90% dari sebelum “crash” terjadi. Butuh waktu 25 tahun sebelum Dow Jones industrial average pulih ke level sebelum 1929.
Dampak pada perekonomian riil sangat beragam, kepemilihan saham yang meluas berarti bahwa kerugian juga dirasakan oleh banyak konsumen dari kelas menengah.
Kekacauan ini segera merembet ke segala sektor, para investor menunda investasi dan pabrik-pabrik banyak yang ditutup.
Pada tahun 1932, perekonomian AS telah menurun hingga setengahnya, dan sepertiga dari angkatan kerja menganggur.
Sistem keuangan AS secara keseluruhan juga hancur, dengan ditutupnya seluruh sistem perbankan pada Maret 1933 pada saat Presiden yang baru, Franklin Roosevelt mengambil kantor dan meluncurkan program pemulihan.
Banyak ekonom telah mengkritik respon pemerintah tidak memadai.
Federal Reserve selaku Bank sentral AS justru menaikkan suku bunga untuk melindungi nilai dolar dan melestarikan sistem standar emas.
Program pemulihan ekonomi yang dilancarkan oleh Presiden Franklin Roosevelt telah meringankan beberapa masalah terburuk pada era depresi, tetapi ekonomi AS tidak sepenuhnya pulih hingga Perang Dunia II.
Program pemulihan ekonomi dari Roosevelt inilah yang menjadi cikal bakal dibentuknya Securities and Exchange Commission (SEC) yang ditugaskan khusus untuk mengawasi kestabilan market sampai sekarang.
Lesson from “The Crash”

Ketika ekonomi dalam keadaan yang bagus, psikologis investor juga cenderung pada kondisi yang sama. Mereka juga lebih berani untuk mencari peluang profit yang lebih tinggi dengan memilih menaikkan tingkat resiko ke level yang lebih tinggi. Hasilnya, hal ini akan memperbesar resiko terjadinya “crash”.
Banyak trader yang lebih membanggakan ekspektasi tradingnya. 2% per hari, 1000% per tahun untuk menjadi milyarder dalam setahun.
Kebetulan baru-baru ini di tahun 2009 ada kasus dari sebuah firma investasi besar Bernard L. Madoff Investment Securities yang dikelola oleh Bernard Madoff, seorang eksekutif yang terkenal di kalangan NASDAQ.
Madoff Investment Securities dihukum bersalah dalam melakukan skema investasi ponzi dan merugikan uang nasabah / investor sebesar US$ 50 milyar. Yang menarik untuk kita simak adalah rate yang dia tawarkan kepada investornya ternyata hanya 1 – 2% per bulan – yang saya rasa yang ikut juga bukan investor ecek-ecek, karena mayoritas adalah investor besar di Wall Street.
Saya tidak tahu berapa yang Anda harapkan dari trading, namun saya cukup yakin bahwa harapan Anda pastinya lebih besar dari 1 – 2% per bulan.
Dan yang lebih menarik lagi adalah awal dari kecurigaan terhadap institusinya adalah karena dia tidak pernah miss, dalam setiap bulan selalu konsisten menghasilkan 1 – 2% bagi para investornya. – tidak heran yah kalau di Indonesia skema ponzi ini banyak berhasil memakan korban, secara keuntungan per bulan yang dijanjikan lebih dari 10%
Bukannya menakut-nakuti, tapi dunia investasi hanya memberikan kesempatan bagi orang-orang yang berniat untuk trading, bukan untuk bermain poker.
Saya rasa market tidak akan pernah lepas dari sifat-sifat psikologis manusia terutama keserakahan.
Dan pelajaran terakhir, ketika “crash” terjadi, otoritas pemerintah dan Bank Sentral tentunya juga mengambil kebijakan protektif untuk melindungi pasar modal dan perekonomian. Bila anda jeli, anda bisa mulai memperkirakan efek dari kebijakan-kebijakan tersebut dan memilih instrumen keuangan mana yang bakalan lebih menguntungkan.
Momen-momen crash yang pernah terjadi di market ini juga menjadi landasan petuah trading bagi film-film holywood bertema trading seperti “Wall Street : money never sleeps”
Anda punya pengalaman sejenis dengan topik ini? Silahkan berbagi disini



{ 5 comments… read them below or add one }
luar biasa
Di Indonesia lebih luar biasa lagi bro. Kalo anda tau investasi a****h, investasi tersebut memberikan keuntungan 100%-200% perbulan bagi para investor yg setor dana utk di tradingkan.. Baru des 2011, investasi tersebut mulai kolaps..
Miris sekali, mengingat investasi2 ginian di indo banyak jenis ragamnya.
Efeknya, menyebabkan krisis finansial yg lumayan di dapu-dapur keluarga indo, karena dana yg terkumpul triliyunan.^_^
Dan inilah salah satu penyebab, forex menjadi buruk di mata masyarakat disebabkan rasa marah yg berkecamuk. Rasa marah itu membuat mereka salah paham soal trading. Tak mau menguliti lebih jauh lagi. padahal forex dengan ponzi itu beda..
Soal Madoff, apa itu sebuah konspirasi agar terjadi krisis global apa ya? Menginggat para korban dari madof adalah lembaga atau institusi yg bisa dibilang mengerti soal hal ginian.
ponzi ini kalo di indo lebih dikenal dengan nama “HYIP”. Basicnya uang nasabah jg yg ujung2 nya buat bayar deviden per bulannya. Sedangkan dananya ga di investasikan sama sekali. Paling cuman ditabung.
Kalo soal Madoff, saya rasa ga ada konspirasi agar terjadi krisis global. Karena dana dari Madoff ini tidak masuk ke pasar ekuitas saham / forex. Jadi tidak bisa mempengaruhi market.
Hati2 SEKEMA PONZI/HYIP di wilayah Asia sekarang sedang lg gencar di kembangkan, dgn berbagai modus yg cukup banyak memakan korban…hal ini disebabkan byknya faktor yg belom siap untuk menerima konsep pasar investasi,, dr Pemerintah, Hukum dan Kesiapan pasar ekonomi Asia, kususnys Indonesia. data di indonesia sendiri sudah ratusan milyar uang masyarakat yg tertipu oleh sekema tersebut… hal ini yg berpengaruh besar terhadap perkembangan pasar forex/saham di Indonesia mejdi lambat berkembang,,
Ya betul Pak,
saya kira memang masyarakat kita masih belum melek investasi. Ujung-ujungnya ketipu ama mulut manis dan janji-janji.
Herannya bahkan dari kalangan artis ada yg kena tipu juga. Jadi saya kira para penipu ini juga sudah semakin canggih metodenya dalam beroperasi.